Hasil dari berbagai survei dan statistik mengungkapkan bahwa para konsumen di seluruh belahan dunia telah semakin sadar akan kemasan daur ulang dan pentingnya hal itu bagi lingkungan. Aspek perilaku konsumen ini yang didukung dengan regulasi pemerintah di banyak negara akan mengendalikan perusahaan-perusahaan, khususnya manajer produk dan para pemasar untuk menggunakan kemasan yang berwawasan lingkungan atau kemasan-hijau (green packaging). Namun istilah-istilah kemasan hijau, kemasan daur ulang, dan kemasan ramah lingkungan akhirnya hanya menjadi slogan yang banyak digunakan saat ini. Dan oleh sebab itu, pengadaan bahan kemasan ramah lingkungan bahkan dari perusahaan terpercaya sekalipun, seringkali bisa menjadi sulit.

Penting untuk di tanamkan di pikiran, bahwa ini bukan melulu masalah metode proses produksi atau metode pengolahan limbah. Para pengusaha seharusnya memiliki cara pandang yang luas dan menyeluruh tentang bagaimana memproduksi sesuatu produk yang tidak merusak lingkungan, dan inilah poin-poin kunci yang bisa digunakan sebagai pertimbangan dalam membuat keputusan tentang bahan kemasan apa yang akan digunakan:

  1. Apakah bahan itu bisa didaur ulang? Jika ya, apakah itu sebagian saja atau keseluruhan?
  2. Apakah bahan itu berasal dari sumber-sumber yang bisa diperbaharui kembali?
  3. Apakah produk nya bisa terurai dalam tanah / terurai secara biologis?

Tiga poin tersebut di atas adalah faktor-faktor mendasar dan menjadi bagian yang sangat penting dalam proses pengambilan keputusan. Selain daripada itu, perusahaan atau usaha yang memakai bahan itu seharusnya juga melakukan evaluasi para vendor atau penyedia (supplier) yang terlibat tersebut, akan hal-hal berikut:

  1. Proses dan metode produksi apa yang diterapkan oleh calon vendor, juga tentang bagaimana metode pengiriman bahan kemasan tersebut.
  2. Untuk produk yang akan dieksport ke Amerika Serikat, kemasan pengirimannya harus mutlak memenuhi aturan dari Federal Trade Commission (FTC).
  3. Sedangkan untuk produk yang akan dieksport ke negara-negara Eropa, harus memenuhi aturan EU (Uni Eropa) dan berbagai tuntutan dari asosiasi ritel (retailer scoreboard).